Masyithah Mardhatillah, M. Hum
Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan mengunjungi Australia dalam rangka mengikuti Australia Indonesia Moslem Exchange Program 2016. Bersama empat peserta lain dari berbagai wilayah Indonesia, saya menghabiskan dua pekan di Melbourne, Canberra kemudian Sydney.
Kami mengunjungi beberapa tempat mulai dari universitas, sekolah, radio
lokal, tempat ibadah, lembaga penyandang dana, perpustakaan, lembaga
sosial-kemasyarakatan, komunitas seniman, komunitas keagamaan hingga
museum. Di antara tempat-tempat tersebut, kunjungan ke museum menjadi
momen yang paling saya tunggu. Bagi saya museum tidak hanya menyajikan
informasi, akan tetapi juga mencerminkan bagaimana masyarakat dan
pemerintah (lokal) menghargai khazanah peradaban yang dimiliki.
Museum pertama yang kami kunjungi adalah Islamic Museum of Australia (IMA)
di Melbourne. Dari depan, bangunan berarsitektur kubisme modern
tersebut tampak sederhana dan elegan dengan sentuhan kaligrafi Arab
raksasa di pelataran dinding bertaburkan lempengan-lempengan baja.
Begitu masuk, kami melihat beberapa plakat peresmian museum yang baru
dibuka dua tahun silam tersebut. Salah satu plakat menyebutkan bahwa
Pemerintah Australia turut andil dalam pembangunan pun juga pemeliharaan
museum ini. Saya cukup tercengang mengetahui hal tersebut mengingat
populasi Muslim di Australia tidak lebih dari 2%. Bagi saya ini cukup
menunjukkan bahwa pemerintah Australia benar-benar merangkul semua
elemen masyarakatnya tanpa terkecuali.
Tour guide
kemudian mengajak kami melihat-lihat sambil memberi penjelasan panjang
lebar mengenai objek-objek yang kami dekati. Di antara beberapa spot
yang menarik perhatian, saya paling terpesona dengan venue bertajuk Australian Muslim History.
Di venue tersebut saya mendapat informasi mengenai sejarah masuk dan
tumbuhnya Islam di Australia, kekhasan Muslim Australia dalam praktik
ibadah maupun keseharian, produk-produk hasil akulturasi nilai-nilai
Islam dan budaya Australia, Muslim Australia yang berprestasi di
berbagai bidang dan lain sebagainya. Menariknya, informasi yang demikian
disampaikan dengan media yang fun dan digestible,
yakni dengan gambar—baik satu maupun tiga dimensi—, poster, pohon
sejarah berbentuk alur diakronik-kronologis, lukisan, foto, replika
bangunan bahkan media audio-visual sehingga informasi yang disampaikan
lebih mudah dimengerti dan diingat.
Mengunjungi
venue tersebut membuat saya merasa telah menghabiskan berlembar-lembar
buku serius bervolume tebal mengenai Islam di Australia. Sementara
mencerna informasi-informasi yang baru saya dapatkan, pikiran saya
pulang ke Madura dan berangan-angan mengapa belum ada lembaga semacam
Museum Islam Madura. Muslim adalah golongan mayoritas di Madura dengan
berbagai nilai maupun praktik keagamaan yang khas setelah mengalami
akulturasi dengan budaya setempat. Dua hal tersebut merupakan komponen
mendasar dalam komposisi keunikan Islam di Madura yang barangkali sulit
ditemui di tempat lain dan selayaknya mendapat perhatian serius,
termasuk lewat upaya dokumentasi ensiklopedis dalam lembaga museum.
Selama
ini museum hampir selalu diidentikkan dengan galeri penyimpanan barang
kuno peninggalan kerajaan atau peradaban masa lampau. Padahal, museum
sebenarnya juga merupakan tempat men-display informasi tentang peradaban
masa kini maupun memroyeksikan masa depan. Dalam hal ini, saya kira
Islam Madura memiliki banyak sekali entri menarik yang bisa ditampilkan.
Beberapa di antaranya adalah sejarah masuk dan berkembangnya Islam (di)
Madura, profil tokoh-tokoh lintas generasi yang berandil besar terhadap
Muslim di Madura, penjelasan konsep-konsep nilai dasar yang khas Madura
dan umumnya berbahasa Madura serta deskripsi mengenai praktik-praktik
keislaman yang umum dihelat di Madura. Persebaran pondok pesantren serta
komunitas sosial kemasyarakatan yang berjasa besar terhadap
pengembangan Islam Madura juga patut menjadi sajian utama.
Selain
untuk mengenalkan dan memromosikan kekhasan Islam Madura pada wisatawan
dan atau peneliti asing, keberadaan Museum Islam Madura juga akan
menjadi sumber pengetahuan memadai untuk kalangan pelajar, generasi muda
atau warga Madura secara umum. Ini setidaknya dapat membantu mengatasi
krisis pengetahuan—sekaligus rasa memiliki—di kalangan generasi (muda)
Madura terhadap khazanah kampung halaman mereka sendiri mengingat
kurikulum formal di sekolah belum banyak menyentuh aspek kedaerahan
Madura selain dalam persoalan bahasa. Pengetahuan yang memadai dan rasa
memiliki yang besar pada gilirannya akan menumbuhkan gairah untuk
melestarikan khazanah lokal. Tentu saja dalam hal ini, diperlukan
perencanaan yang matang dan eksekusi yang tepat sasaran, semisal
penyajian informasi yang mudah dicerna serta pemilihan media yang
memadukan unsur penyampaian informasi yang lugas dipadukan dengan unsur
fun atau bahkan seni.
Ide
ini tentu hanya akan tetap menjadi angan-angan tanpa adanya dukungan
dan masukan dari seluruh lapisan masyarakat (Muslim) Madura, utamanya
Pemerintah Daerah berwenang dan otoritas-otoritas sosial keagamaan,
termasuk mereka yang concern dengan kajian dan pelestarian budaya
Madura. Semoga[]
* Dosen Institut Dirasah Islamiyah Al-Amien Prenduan dan pendiri Paddhang Bulan, Center for Islam and Madura Studies Pamekasan.
Sumber: Radar Madura, Jawa Pos, 10 April 2016


Tidak ada komentar :
Posting Komentar